Dari Paperless ke Kampus Minim Sampah Plastik, UIN Palopo Perkuat Gerakan Kampus Hijau Berbasis Ekoteologi

Dari Paperless ke Kampus Minim Sampah Plastik, UIN Palopo Perkuat Gerakan Kampus Hijau Berbasis Ekoteologi

Palopo — Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik yang menjadi perhatian nasional, Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo mengambil langkah konkret. Setelah berhasil mengalihkan sekitar 90 persen layanan administrasi akademik dan manajemen ke sistem elektronik sejak 2025, kampus kini bergerak lebih jauh dengan menerapkan kebijakan minimalisasi penggunaan kemasan plastik sekali pakai di seluruh unit kerja.

Momentum Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026), dipilih sebagai penanda penguatan gerakan tersebut. Dari lingkungan rektorat hingga unit-unit kerja di tingkat fakultas dan lembaga, sivitas akademika mulai didorong membangun kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan.

Rektor UIN Palopo, Dr Abbas Langaji MAg, mengungkapkan bahwa kebijakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai telah diterapkan di lingkup rektorat sejak 1 Mei 2026. Memasuki Juni, kebijakan tersebut mulai diberlakukan secara lebih luas di seluruh unit kerja kampus.

“Kita ingin membangun budaya baru yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Persoalan sampah plastik saat ini sudah menjadi tantangan bersama yang tidak bisa diabaikan,” kata Rektor Abbas saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (2/6/2026) kemarin.

Perubahan itu tampak dalam berbagai aktivitas perkantoran. Unsur pimpinan dan pegawai mulai membiasakan diri membawa tumbler saat bekerja maupun menghadiri rapat. Sajian minuman pada berbagai pertemuan juga tidak lagi menggunakan botol dan gelas plastik sekali pakai, melainkan disediakan melalui pitcher dan dispenser galon yang ditempatkan di sejumlah ruangan.

Bagi Abbas, langkah tersebut bukan sekadar pengurangan penggunaan plastik, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif bahwa kampus memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Perguruan tinggi, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan dan riset. Kampus juga harus menjadi teladan dalam menghadirkan praktik-praktik kehidupan yang berkelanjutan.

“Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi contoh dalam membangun peradaban yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujarnya lagi.

Gerakan minim sampah plastik itu melengkapi transformasi digital yang lebih dahulu dijalankan UIN Palopo. Sejak 2025, kampus secara bertahap menerapkan sistem paperless hingga kini mencakup sekitar 90 persen layanan administrasi akademik dan manajemen. Selain meningkatkan efisiensi pelayanan, kebijakan tersebut turut mengurangi konsumsi kertas dalam aktivitas perkantoran.

Menurut Rektor, kebijakan paperless dan pengurangan plastik sekali pakai merupakan dua bagian yang saling terhubung dalam membangun ekosistem kampus hijau yang berorientasi pada keberlanjutan, efisiensi sumber daya, dan tanggung jawab sosial.

Komitmen itu sebelumnya juga ditegaskan melalui keikutsertaan UIN Palopo dalam Lokakarya UI GreenMetric Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) 2026 yang berlangsung di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 28–29 April lalu. Dalam forum yang diikuti sekitar 162 peserta dari berbagai PTKI di Indonesia tersebut, Abbas memimpin langsung delegasi UIN Palopo sekaligus menandatangani komitmen bersama pimpinan PTKIN untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan.

Komitmen tersebut mencakup penguatan tridharma perguruan tinggi, tata kelola kelembagaan, hingga pengembangan budaya akademik yang mengarusutamakan perspektif ekoteologi.

Karena itu, kebijakan paperless dan gerakan pengurangan sampah plastik yang kini dijalankan UIN Palopo diposisikan sebagai implementasi nyata dari komitmen keberlanjutan yang telah dibangun kampus.

Langkah tersebut juga selaras dengan Asta Cita ke-8 Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menekankan pentingnya harmoni kehidupan manusia dengan lingkungan, alam, dan budaya sebagai fondasi pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Di saat yang sama, kebijakan tersebut menjadi wujud implementasi Program Prioritas Kementerian Agama melalui penguatan Ekoteologi. Melalui pendekatan ini, pelestarian lingkungan dipandang bukan semata agenda ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan manusia dalam merawat bumi.

Melalui gerakan membawa tumbler, mengurangi plastik sekali pakai, dan memperluas layanan digital, UIN Palopo mendorong tumbuhnya budaya ramah lingkungan di kalangan sivitas akademika sekaligus menegaskan komitmennya mendukung pembangunan berkelanjutan, transformasi Kementerian Agama, dan gerakan kampus hijau di Indonesia.

.

.

.

.

Penulis dan foto: Tim Humas
Penyunting: Reski Azis

Spread the love
Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *

qwe
Translate »