Belajar, Mengabdi, dan Mendunia: Kiprah Mahasiswa UIN Palopo dalam KKN Internasional Thailand

Belajar, Mengabdi, dan Mendunia: Kiprah Mahasiswa UIN Palopo dalam KKN Internasional Thailand

Pattani, Thailand – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo di Thailand Selatan terus memberikan pengalaman akademik dan pengabdian yang bernilai bagi mahasiswa. Selain menjalankan tugas di bidang pendidikan, peserta juga memperoleh kesempatan memperluas wawasan global, meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya, serta membangun jejaring internasional yang mendukung pengembangan akademik maupun profesionalitas.

Salah seorang peserta, Muh Tadun Kariem, mahasiswa Program Studi (Prodi) Hukum Keluarga Islam (HKI), mendapat kesempatan mengajar di salah satu sekolah di Pattani sejak 20 Mei 2026 lalu. Pengalaman tersebut menjadi tantangan tersendiri karena ia harus berinteraksi dengan guru dan peserta didik yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda.

Tidak hanya aktif mengajar pada hari kerja, Tadun juga memanfaatkan akhir pekan untuk mengajar Bahasa Arab dan Bahasa Melayu di Tadika Sekolah Masjid Taluban setiap Sabtu dan Ahad. Atas dedikasinya, ia menerima honorarium sebesar 200 Thai Baht atau sekira 107 ribu rupiah per jam, sebagai bentuk apresiasi dari pihak sekolah.

Pengalaman serupa dirasakan Nur Rahmadania, mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Selama mengikuti KKN Internasional, ia terlibat dalam berbagai aktivitas sekolah, termasuk mendampingi sekolah saat menerima kunjungan tim penilaian pada 18 Juni 2026.

Selain menjalankan tugas akademik, Nur memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempelajari bahasa Thailand sekaligus memperkenalkan bahasa Indonesia kepada siswa dan guru. Ia juga menjalin komunikasi dengan sejumlah siswa yang mampu berbahasa Indonesia melalui pembelajaran mandiri berbasis media digital.

Dalam proses adaptasi, Nur mengaku sempat mengalami kebingungan karena jumlah siswa yang hadir di sekolah sering berubah. Namun, seiring waktu ia memahami bahwa sebagian besar siswa juga mengikuti pembelajaran di Addirasat Islamiah School sehingga sistem kehadiran berbeda dengan yang biasa ditemui di Indonesia.

Sementara itu, di Provinsi Narathiwat, Abdullah Syadiq Safar, mahasiswa Prodi Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT), melaksanakan pendampingan program Membaca, Belajar, dan Tulis Alquran (MBTQ) di Sekolah Al-Rahman Witya, Distrik Re-nggae.

Dalam kegiatan tersebut, ia mendampingi peserta didik kelas V melalui pembagian kelompok berdasarkan kemampuan membaca, yakni kelompok Iqra’ dan kelompok Alquran. Pendampingan dilakukan menggunakan metode simak baca Alquran untuk memperkuat penguasaan makhraj, tajwid, serta kelancaran bacaan siswa.

Menurut Abdullah, pengalaman tersebut menggambarkan pendidikan Alquran di Thailand Selatan tidak hanya berlangsung di sekolah formal, tetapi juga diperkuat oleh peran keluarga, masjid, dan lembaga pendidikan nonformal seperti Tadika.

“Budaya belajar Alquran yang terus dipelihara masyarakat Melayu Patani mencerminkan komitmen yang tinggi dalam menjaga dan mewariskan nilai-nilai Islam kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Pengalaman menarik lainnya dirasakan Maura Felisya, mahasiswa Prodi Hukum Tata Negara (HTN), dan Muh Al-Farezah Azis, mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah (EKS).

Maura mendapat amanah mengajar di kelas yatim setara kelas III sekolah dasar, dengan tantangan utama berupa perbedaan bahasa karena sebagian besar peserta didik menggunakan bahasa Thailand dalam komunikasi sehari-hari.

Sementara Al-Farezah terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah, termasuk kegiatan bertema Hajj Zamruj yang melibatkan seluruh warga sekolah. Menurut keduanya, keterbatasan bahasa menjadi tantangan terbesar selama menjalankan pengabdian. Namun, kondisi tersebut justru melatih kemampuan adaptasi, komunikasi lintas budaya, serta memperkuat semangat kolaborasi internasional dalam bidang pendidikan.

Program KKN Internasional UIN Palopo dinilai menjadi salah satu implementasi komitmen kampus dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi. Melalui pengalaman belajar dan mengabdi di lingkungan masyarakat internasional, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga mengembangkan kompetensi global, kepemimpinan, serta sensitivitas terhadap keberagaman budaya yang menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan masyarakat global.



Penulis: Jefri Nugraha
Foto: Istimewa
Penyunting: Reski Azis

Spread the love
Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *

qwe
Translate »