Datu Luwu Resmikan Pusat Studi Luwulogi IAIN Palopo

Datu Luwu Resmikan Pusat Studi Luwulogi IAIN Palopo

#KarebaHumas– Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo membuka pusat studi budaya Luwulogi. Keberadaan Luwulogi di IAIN Palopo untuk mendorong kajian relasi nilai budaya dengan paham keagamaan atau lebih dikenal dengan istilah moderasi beragama.

Rektor IAIN Palopo, Prof. Dr. Abdul Pirol, M.Ag mengatakan, pusat kajian budaya Tana Luwu dipusatkan di gedung perpustakaan. “Mahasiswa pada semua fakultas dan jurusan dapat mempelajari dan mengkaji tentang budaya Luwu,”kata Pirol.
Menurut Pirol, pusat studi ini menyajikan buku-buku terkait dengan Luwu. Pusat studi Luwulogi ini sebagai jembatan bagi sivitas akademika dan masyarakat untuk bersama-sama membangun Tana Luwu dan peradabannya.

Tana Luwu pada beragam dimensi dan makna budaya baik yang bersifat primordial maupun progresiv kontemporer. Bahkan, sebagai pusat kajian yang memadukan pendidikan dan kebudayaan yang bertumpuk pada warisan budaya Tana Luwu.
“IAIN Palopo bagian yang tidak terpisahkan bagi perkembangan Tana Luwu sebagaimana visi IAIN Palopo, Terkemuka dalam Integrasi Keimuan Berciri Kearivan Lokal.” imbuh Abdul Pirol.

Luwulogi IAIN Palopo juga bertujuan mendorong kajian relasi nilai budaya dengan paham keagamaan atau lebih dikenal dengan istilah moderasi beragama.
Keberadaan Luwulogi di IAIN Palopo tidak lepas dari upaya pengejewantahan visi dan misi terkemuka dalam integrasi kelimuan berciri kearifan lokal.

Adapun kegiatan kerjasama dengan kedatuan Luwu adalah riset multidisipliner terkait topik budaya tana Luwu. Kolektor dan inventaris produk budaya Tana Luwu, publikasi ilmiah. Lalu kerjasama dan kemitraan dalam pengembangan program budaya.

Datu Luwu ke-40, La Maradang Mackulau Opu To Bau, mengatakan Luwulogi IAIN Palopo merupakan pusat studi budaya Tana Luwu pada beragam dimensi dan makna budaya baik yang bersifat primordial maupun progresiv kontemporer. “Luwulogi IAIN Palopo diharapkan dapat mendorong kajian relasi nilai budaya dengan paham keagamaan atau lebih dikenal dengan istilah moderasi beragama,”kata La Maradang.

Dia mengungkapkan Kedatuan Luwu didirikan kurang lebih 1.000 tahun yang lalu. Diman banyak kerjaan yang berdiri pada masanya di wilayah nusantara, namun seiring berjalannya waktu banyak pula yang berguguran.
“Kedatuan Luwu masih berjaya sampai saat ini, ini adalah bagian semangat para pendahulu dan didasari pula putra putri terbaik Tana Luwu serta karunia alam yang melimpah. Lalu kenapa saat ini bukan kita yang terbaik.” ungkap Datu Luwu ini.

Dikatakannya, Kedatuan Luwu punya aturan dan tantangan diterapkan dalam 5 simbol utama. Yang pertama, Singkerru si Muala Jaji, adalah awal perjanjian sebagai anak keturunan Luwu, “sebagai orang Luwu wajib hukumnya melakukan kebaikan-kebaikan,” ucapnya.
Menurutnya, simbol yang pertama ini dimaknai, bagaimana keturunan Luwu tidak melakukan kezaliman. Contohnya, korupsi, atau merasa hebat dari yang lain. Kedua, Tandra Sula, adalah usaha sebagai keturunan Luwu bagaiman tetap berusaha untuk menggapai tujuannya dengan usahanya itu, meskipun jika dilihat Tandra Sula adalah bagian tersulit bagi manusia.

Ketiga, Sulapa Eppa, adalah simbol pertanggungjawaban. Keempat, Pakka, atau trisula dalam pemaknaanya harus dimiliki bagi para pemimpin. Dan kelima, Pajung, atau payung, adalah sebuah simbol dalam pemaknaanya sifat kemuliaan atau menaungi siapa saja. “IAIN Palopo adalah pelopor Keluwuan dari beberapa universitas di Tana Luwu, karena itu harapan saya pada Luwulogi IAIN Palopo berangkat dari 5 simbol utama Tana Luwu ini.” tutupnya. (Humas)

Spread the love
Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *

qwe
Translate »