Sambut Semester Gasal 2026/2027, Prof Jimly Asshiddiqie Serukan Tradisi Keilmuan Islam

Sambut Semester Gasal 2026/2027, Prof Jimly Asshiddiqie Serukan Tradisi Keilmuan Islam

Palopo – Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo resmi membuka perkuliahan semester gasal Tahun Akademik 2026/2027 melalui kegiatan pembukaan kuliah yang berlangsung di Auditorium Phinisi, Kampus II UIN Palopo, Jalan Bitti, Kelurahan Balandai, Kecamatan Bara, Kota Palopo, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sivitas akademika, dosen, dan mahasiswa UIN Palopo. Dalam momentum tersebut, UIN Palopo menghadirkan Prof Dr H Jimly Asshiddiqie SH MH, Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia sekaligus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, yang menyampaikan kuliah umum secara daring melalui Zoom Meeting.

Rektor UIN Palopo Dr Abbas Langaji MAg, mengajak sivitas akademika memasuki semester baru dengan semangat meningkatkan kualitas pembelajaran, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan kampus serta membangun budaya kampus hijau dan bebas plastik sekali pakai.

Abbas menyebut capaian UIN Palopo merupakan hasil kerja super team dan keberlanjutan pondasi yang dibangun para pendahulu. Saat ini, 11 program studi telah meraih predikat unggul.

Rektor juga mengapresiasi dosen dan tenaga kependidikan yang menyalurkan zakat profesi melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) UIN Palopo sehingga pada semester ini membantu pembayaran UKT 126 mahasiswa, terdiri atas 25 mahasiswa FUAD, 26 Fakultas Syariah, 36 FTIK, dan 39 FEBI.

Rektor turut menyampaikan apresiasi kepada Bank Syariah Indonesia (BSI) selaku mitra UIN Palopo atas sponsorship pengadaan laptop bagi pegawai keuangan senilai Rp150 juta. Dukungan tersebut diharapkan memperkuat layanan dan tata kelola kelembagaan.

Dalam kuliah umum Prof Jimly Asshiddiqie mengajak sivitas akademika memperkuat tradisi keilmuan Islam dan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Prof Jimly yang telah menulis 83 buku menyampaikan bahwa tradisi Islam dan tradisi Timur perlu menjadi rujukan dalam pengembangan ilmu, sementara tradisi keilmuan Barat tetap dapat dipelajari sebagai bahan kajian.

Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya merupakan upaya manusia menemukan dan memahami hukum-hukum alam atau sunnatullah yang telah ditetapkan Allah swt. “Ilmu yang ditemukan manusia pada hakikatnya adalah ilmu Allah,” ujarnya.

Prof. Jimly menegaskan, tidak semestinya terdapat dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum karena seluruh ilmu pada dasarnya memiliki keterkaitan dan bermuara pada kebesaran Allah swt. Menurutnya, tradisi keilmuan Islam telah memberikan kontribusi besar dalam perjalanan peradaban manusia. Karena itu, ia berpesan kepada mahasiswa dan dosen untuk membangun kedekatan dengan tradisi intelektual Islam melalui kebiasaan membaca karya dan mengutip pemikiran para ilmuwan Muslim.


Penulis: Jefri Nugraha
Fotografer: Adrian
Penyunting: Reski Azis

Spread the love
Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *

qwe
Translate »