Palopo — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo menggelar Seminar Pendidikan yang membahas perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan tantangannya terhadap dunia pendidikan, khususnya peran guru dalam proses pembelajaran.
Seminar tersebut berlangsung di Auditorium Phinisi, Kampus II UIN Palopo, Jalan Bitti, Kelurahan Balandai, Kecamatan Bara, Selasa pagi (8/9/2026) kemarin, dengan mengangkat tema “Interkoneksi Pendidikan dan AI: Mendidik Manusia atau Mengajar Ledakan Teknologi?”
Kegiatan diikuti mahasiswa, guru, dan tenaga pendidik se-Kota Palopo. Sejumlah akademisi dan praktisi pendidikan hadir sebagai pemateri, yakni Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan (AUPK) UIN Palopo, Prof Dr Masruddin SS MHum. Lalu ada Direktur Pascasarjana UIN Palopo, Prof Dr Muhaemin SPdI MA, serta Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Palopo (Disdikpora), Syamsul Alam SIP MSi.
Turut hadir Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama FTIK UIN Palopo, Dr Taqwa SAg MPdI; Ketua Program Studi (Prodi) PAI, Dr Andi Arif Pamessangi SPdI MPd, bersama sejumlah dosen lainnya.
Ketua Panitia Seminar Pendidikan HMPS PAI, Muh Fahril, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk atensi mahasiswa terhadap perkembangan AI yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan.
“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian HMPS PAI UIN Palopo terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan,” kata Fahril dalam laporannya.
Menurutnya, perkembangan AI perlu disikapi secara kritis, bijak, dan bertanggung jawab oleh seluruh insan pendidikan. Karena itu, seminar diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan antara mahasiswa, guru, dosen, dan pihak lain yang memiliki perhatian terhadap masa depan pendidikan.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat membuka ruang diskusi dan pertukaran gagasan bagi mahasiswa, guru, dosen, serta insan pendidikan dalam menyikapi perkembangan teknologi secara kritis, bijak, dan bertanggung jawab,” ujarnya lagi.
Dalam pemaparannya, Prof Masruddin menekankan penggunaan AI tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan proses berpikir. Menurutnya, AI memang dapat mempercepat penyelesaian tugas, tetapi tugas yang selesai tidak selalu berarti materi telah dipahami.
Ia memperkenalkan pendekatan 6I dalam penggunaan AI untuk pembelajaran, yakni Identify atau menetapkan tujuan, Initiate atau mencoba secara mandiri, Interact atau melakukan dialog strategis dengan AI, Inspect atau memeriksa bukti, Internalize atau membangun pemahaman, serta Introspect atau melakukan refleksi dan transparansi.
Melalui pendekatan tersebut, AI diarahkan menjadi mitra berpikir, bukan sekadar mesin pemberi jawaban. Mahasiswa terlebih dahulu mengaktifkan pengetahuan sendiri, kemudian menggunakan AI untuk memperluas pemikiran, memeriksa setiap informasi, dan kembali menjelaskan materi dengan pemahaman sendiri.
Masruddin juga menekankan pentingnya membedakan kontribusi AI dengan kontribusi intelektual pengguna. Manusia, menurut materi tersebut, tetap memegang tujuan, penilaian, dan keputusan dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, Syamsul Alam menyoroti perubahan dunia pendidikan di tengah semakin luasnya penggunaan AI. Menurutnya, AI saat ini telah digunakan untuk mencari dan menjelaskan informasi, membuat rangkuman, menerjemahkan teks, membuat soal dan materi, membantu penyusunan tugas, memberikan umpan balik, hingga menjadi tutor belajar pribadi.
Ia menilai persoalan pendidikan saat ini bukan lagi sekadar apakah peserta didik akan menggunakan AI, tetapi bagaimana memastikan teknologi tersebut digunakan secara benar, kritis, aman, dan sesuai dengan nilai Islam.
Khusus dalam pembelajaran PAI, Prof Muhaemin menjelaskan penggunaan AI membutuhkan pendekatan tersendiri. Sebab PAI tidak hanya menyangkut dimensi kognitif berupa pemahaman Alquran, Hadis, Akidah, Fikih, Sejarah Islam, dan Akhlak, tetapi juga mencakup dimensi afektif serta pembentukan kebiasaan, perilaku, akhlak, dan pengamalan nilai Islam.
Karena itu, AI yang kuat dalam memberikan informasi tetap tidak dapat menggantikan manusia dalam pembentukan iman, karakter, adab, dan keteladanan yang membutuhkan pengalaman nyata.
Ia juga menempatkan AI sebagai wasilah atau sarana dalam pendidikan Islam. Teknologi digunakan untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan, bukan menjadi tujuan utama. Pendidikan tetap diarahkan untuk membentuk manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab dengan tetap menjaga nilai tauhid, amanah, keadilan, maslahah, dan akhlak.
Lanjut, dalam pembelajaran PAI, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu peserta didik mencari dan membandingkan berbagai pendapat. Namun, jawaban yang diberikan AI tidak otomatis menjadi otoritas hukum. Pendidik tetap diperlukan untuk menguji dalil, konteks, dan ketepatan jawaban, sementara peserta didik diarahkan untuk berpikir kritis dan tidak sekadar menerima jawaban yang diberikan teknologi.
Pendekatan tersebut juga dapat diterapkan dalam pembelajaran Akidah Akhlak. AI dapat digunakan untuk menghadirkan berbagai situasi yang dekat dengan kehidupan peserta didik, khususnya persoalan etika di ruang digital. Selanjutnya, peserta didik menganalisis persoalan dan mempertimbangkan nilai serta akibatnya, sementara pendidik mengarahkan pembentukan sikap. Dengan demikian, AI menghadirkan situasi, sedangkan pendidikan tetap membentuk karakter.
Sementara itu, Wakil Ketua HMPS PAI, Andrian Ishaq, menyoroti posisi manusia dan tenaga pendidik di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI.
Ia mempertanyakan bagaimana teknologi tersebut akan ditempatkan dalam proses pembelajaran dan sejauh mana guru tetap memiliki peran sentral ketika teknologi AI semakin berkembang.
“Apakah kita sebagai manusia menggunakan teknologi? Dengan diadakannya kegiatan ini, bagaimana kita sebagai tenaga pendidik atau guru, apakah kita akan tetap menggunakan AI?” ujarnya.
Menurut Andrian, pertanyaan tersebut penting untuk didiskusikan karena kehadiran AI tidak hanya memberikan kemudahan dalam proses pendidikan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi guru dan mahasiswa.
Adapun, Ketua Prodi PAI Andi Arif Pamessangi, yang membuka seminar secara resmi mengapresiasi antusiasme mahasiswa, dosen, guru dan siswa yang mengikuti seminar tersebut.
“Terima kasih atas partisipasi seluruh peserta Seminar Pendidikan HMPS PAI ini, baik dari mahasiswa, dosen, guru dan siswa yang ada di Kota Palopo,” ujarnya.
Ia menegaskan, perkembangan teknologi tidak boleh menggeser posisi guru sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
“Guru menjadi motor utama pendidikan di Indonesia,” tegasnya.
Menurut Andi Arif, AI semestinya ditempatkan sebagai instrumen yang membantu proses pendidikan, bukan menggantikan peran manusia. Guru tetap memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter, menanamkan nilai, serta membangun dimensi kemanusiaan peserta didik.
Seminar ini dinilai menjadi ruang refleksi bagi peserta untuk melihat kembali posisi AI dalam pendidikan. Perkembangan teknologi tidak hanya perlu dilihat dari kemampuannya mempercepat pekerjaan, tetapi juga dari bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas pendidikan tanpa menghilangkan peran manusia di dalamnya.
Dengan demikian, tantangan pendidikan di era AI bukan semata-mata tentang seberapa cepat guru dan mahasiswa menguasai teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut digunakan secara tepat untuk mendukung tujuan pendidikan dan tetap menempatkan manusia sebagai pusat pendidikan.
.
.
.
.
Penulis dan foto: Adrian
Penyunting: Reski Azis









