Diskusi Budaya di Luwu Utara, Wakil Rektor UIN Palopo Angkat Ancaman Kepunahan Bahasa Daerah

Diskusi Budaya di Luwu Utara, Wakil Rektor UIN Palopo Angkat Ancaman Kepunahan Bahasa Daerah

Luwu Utara – Wakil Rektor (Warek) Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo, Prof Dr Masruddin SS MHum, menjadi narasumber dalam Diskusi Budaya bertema “Menggali Kearifan Lokal untuk Memperkuat Identitas Budaya,” yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan RI dan Dewan Perwakilan Rakyat RI, bertempat di Hotel Remaja, Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Senin (5/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Warek Masruddin membawakan materi bertajuk “Merawat Bahasa, Menjaga Rumah Budaya: Warisan Kita untuk Masa Depan.” Ia menekankan bahasa daerah selain alat komunikasi, ia juga menjadi wadah pengetahuan, nilai, dan identitas budaya yang diwariskan antargenerasi.

Menurutnya, keberlangsungan bahasa daerah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari peralihan penggunaan bahasa di kalangan generasi muda hingga terbatasnya pewarisan bahasa dalam lingkungan keluarga dan pendidikan. Jika tidak diupayakan secara berkelanjutan, hilangnya bahasa daerah juga berpotensi menghilangkan pengetahuan dan tradisi yang terkandung di dalamnya.

Secara khusus, Masruddin menyoroti kekayaan budaya Tana Luwu yang tercermin dalam bahasa, kesenian, adat istiadat, dan praktik sosial masyarakat. Sejumlah warisan budaya yang diangkat dalam pemaparannya antara lain tenun ikat sakral Rongkong, Tari Sumango, ritual Macera Tasi, Tari Pajjaga, serta bahasa Wotu.

Salah satu perhatian utama dalam materinya tersebut ialah keberlangsungan bahasa Wotu. Data yang dicantumkan dalam presentasi, memperkirakan jumlah penuturnya kurang dari 100 orang, dengan sebagian besar berusia di atas 50 tahun. Kondisi ini menunjukkan pentingnya dokumentasi dan revitalisasi bahasa daerah agar tetap dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Masruddin juga memaparkan sejumlah upaya yang telah dilakukannya dalam pelestarian bahasa dan budaya, di antaranya penelitian bahasa Wotu, penyusunan buku trilingual, penulisan buku Wotu di Persimpangan Jalan, pengembangan aplikasi, serta kajian ekolinguistik.

Ia lalu menegaskan pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah berperan melalui kebijakan dan dukungan program revitalisasi, masyarakat melalui penggunaan bahasa ibu dalam keluarga dan kehidupan sehari-hari, sedangkan perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian, dokumentasi, pengembangan bahan ajar, dan pengabdian kepada masyarakat.

Keterlibatan akademisi dalam diskusi budaya ini dinilai menjadi bagian dari upaya kampus memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya lokal. Pelestarian bahasa dan kearifan lokal diharapkan tidak hanya menjadi upaya mendokumentasikan masa lalu, tetapi juga memastikan warisan tersebut tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.

Masih menurut Masruddin, bagi masyarakat Tana Luwu menjaga bahasa dan budaya berarti merawat identitas bersama, sekaligus mempertahankan kekayaan pengetahuan dan tradisi yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat.


Penulis: Mahfud Massaguni
Foto: Istimewa
Penyunting: Reski Azis

Spread the love
Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *

qwe
Translate »