Dari Jakarta untuk Palestina: Memperkuat Solidaritas melalui Pendidikan dan Diplomasi Kemanusiaan

Dari Jakarta untuk Palestina: Memperkuat Solidaritas melalui Pendidikan dan Diplomasi Kemanusiaan

Oleh: Abbas Langaji (Rektor UIN Palopo)

Pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam dialog bersama Mufti Agung Al-Quds dan Imam Masjid Al-Aqsa Syekh Muhammad Hussein serta Penasihat Presiden Otoritas Palestina untuk Urusan Keagamaan sekaligus Hakim Agung Syariah Mahmoud Al-Habbash di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat 25 September 2026, menghadirkan pesan penting tentang bagaimana solidaritas Indonesia terhadap Palestina dapat diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang nyata.

Menag menegaskan Indonesia akan terus berdiri bersama Palestina dan dukungan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam langkah nyata yang berdampak langsung bagi masa depan generasi muda Palestina.

Pesan tersebut, menurut saya, patut dibaca lebih jauh dalam perspektif pendidikan dan peran perguruan tinggi. Sebab, jika kita berbicara mengenai masa depan generasi muda, maka pendidikan merupakan salah satu ruang paling strategis untuk memastikan sebuah bangsa tetap memiliki masa depan di tengah situasi krisis.

Di sinilah gagasan mengenai konferensi internasional para imam sedunia di Jakarta menjadi relevan. Forum keagamaan internasional semacam ini tidak semestinya berhenti sebagai ruang pertemuan dan pertukaran pandangan, tetapi dapat dikembangkan menjadi ruang artikulasi gagasan dan kerja sama konkret, termasuk dalam bidang pendidikan, kemanusiaan, penelitian, dan penguatan kapasitas generasi muda.

UNESCO dalam Recommendation on Education for Peace and Human Rights menegaskan pendidikan memiliki kontribusi penting terhadap perdamaian, pemahaman internasional, kerja sama, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta penguatan kewargaan global. UNESCO juga menekankan perlu membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang memungkinkan mereka berkontribusi pada perdamaian dan kehidupan masyarakat yang lebih inklusif.

Dalam konteks tersebut, dukungan kepada Palestina tidak hanya dapat dipahami dalam kerangka bantuan kemanusiaan jangka pendek. Ada dimensi pembangunan manusia yang perlu mendapat perhatian: bagaimana memastikan anak-anak dan generasi muda Palestina tetap memiliki akses terhadap pendidikan, pengetahuan, pengembangan kapasitas, dan kesempatan untuk membangun masa depannya.

UNESCO bahkan menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu aktor penting dalam transformasi sosial dan pembangunan perdamaian. Dalam konteks pendidikan tinggi di tengah krisis, perguruan tinggi tidak hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya proses akademik, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pemulihan dan peacebuilding.

Karena itu, perguruan tinggi di Indonesia dapat mengambil bagian secara lebih konkret. Universitas Islam, khususnya perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI), memiliki ruang kontribusi yang luas melalui penelitian, pertukaran akademik, pemberian beasiswa, penguatan kapasitas mahasiswa dan dosen, pengembangan kajian Palestina, serta kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di kawasan yang terdampak konflik.

Kerja sama tersebut dapat diarahkan pada program-program yang terukur. Misalnya, beasiswa bagi mahasiswa Palestina, academic mobility, kuliah tamu bersama akademisi Palestina, penelitian kolaboratif, pengembangan pembelajaran jarak jauh, penguatan kapasitas dosen, hingga pembentukan pusat kajian yang secara serius mempelajari pendidikan dalam situasi konflik dan pascakonflik.

Bagi perguruan tinggi, kontribusi semacam ini bukan sekadar bentuk solidaritas, tetapi juga bagian dari tanggung jawab akademik. Pengetahuan tidak seharusnya hanya berhenti di ruang kelas dan jurnal ilmiah. Pengetahuan harus memiliki daya guna sosial.

Dalam kerangka inilah konferensi internasional imam sedunia di Jakarta dapat memperoleh makna yang lebih luas. Para ulama dan pemimpin agama memiliki kekuatan moral untuk membangun kesadaran publik, sementara perguruan tinggi memiliki sumber daya intelektual untuk mengembangkan gagasan menjadi program berbasis pengetahuan.

Keduanya dapat bertemu dalam satu agenda: menjadikan solidaritas kemanusiaan sebagai gerakan yang terencana, terukur, dan berkelanjutan.

Kita juga perlu melihat generasi muda Palestina bukan hanya sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi sebagai subjek masa depan yang memiliki kapasitas untuk membangun kembali masyarakatnya. Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk menjaga kapasitas tersebut.

UNESCO menyebut pendidikan sebagai hak asasi manusia sekaligus fondasi bagi perdamaian dan pembangunan. Dalam situasi konflik, perlindungan terhadap pendidikan karena itu menjadi bagian penting dari upaya melindungi masa depan generasi muda.

Perspektif tersebut memberi kita alasan untuk memperluas bentuk dukungan. Jika bantuan kemanusiaan menjawab kebutuhan hari ini, maka pendidikan dan penguatan kapasitas manusia ikut menjawab kebutuhan hari esok.

Indonesia memiliki tradisi diplomasi yang kuat melalui dialog keagamaan dan pendidikan. Jakarta dapat menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan ulama, akademisi, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil dalam membangun agenda kemanusiaan yang lebih konkret.

Bagi saya, semangat yang disampaikan Menteri Agama tersebut dapat diterjemahkan oleh dunia akademik dalam bentuk yang sederhana tetapi nyata: menulis, meneliti, mengajar, membuka ruang dialog, membangun jejaring akademik, menyediakan akses pendidikan, serta menghadirkan program yang memberikan manfaat langsung bagi generasi muda Palestina.

Kampus tidak harus selalu berbicara dengan bahasa politik. Kampus dapat berbicara melalui bahasa ilmu pengetahuan, pendidikan, kemanusiaan, dan kerja sama akademik.

Pada akhirnya, solidaritas tidak hanya diukur dari seberapa keras kita menyatakan keberpihakan terhadap nilai kemanusiaan, tetapi juga dari seberapa jauh kita mampu mengubah nilai tersebut menjadi tindakan yang memberi manfaat.

Dari Jakarta, pesan itu dapat dikembangkan menjadi agenda bersama: memperkuat pendidikan, memperluas kerja sama akademik, menjaga keberlangsungan pengetahuan, dan membuka masa depan bagi generasi muda Palestina.

Sebab ketika pendidikan tetap hidup, harapan juga tetap memiliki ruang untuk tumbuh.

Spread the love
Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *

qwe
Translate »