Bulukumba — Wakil Rektor (Warek) Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan (AUPK) Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo, Prof Dr Masruddin SS MHum, menjadi narasumber dalam Webinar Kesehatan yang diselenggarakan Akademi Kebidanan Tahirah Al-Baeti Bulukumba, Jumat (25/9/2026), melalui zoom meeting.
Webinar mengangkat tema “Menggali Kearifan Lokal Nusantara dalam Asuhan Kebidanan yang Aman dan Berbasis Bukti.” Kegiatan membahas pengetahuan lokal Nusantara dalam kaitannya dengan kesehatan, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan pembuktian ilmiah.
Dalam webinar tersebut, Masruddin membawakan materi berjudul “Leksikon Tumbuhan Obat Masyarakat Adat Rongkong: Bentuk Lingual, Dimensi Ekologis, dan Pengetahuan Pengobatan Tradisional.”
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan pengetahuan masyarakat adat Rongkong mengenai tumbuhan obat tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan tanaman, tetapi juga mencerminkan hubungan antara bahasa, budaya, lingkungan, dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Berdasarkan kajian yang dipaparkan, terdapat 62 entri tumbuhan obat yang mencakup 33 famili botani dan 55 genus. Penamaan tumbuhan tersebut memiliki beragam bentuk, mulai dari bentuk satu kata hingga gabungan kata. Beberapa di antaranya adalah kariango, tambaga, leyya, paku lando, dan jambu biji.
Warek Masruddin juga menguraikan tiga dimensi ekologis dalam pengetahuan tumbuhan obat masyarakat Rongkong, yakni biologis, ideologis, dan sosiologis. Dimensi biologis berkaitan dengan kemampuan masyarakat mengenali ciri fisik tumbuhan, bagian tanaman, dan habitatnya. Dimensi ideologis berkaitan dengan nilai pengobatan dan pemaknaan budaya, sedangkan dimensi sosiologis berhubungan dengan praktik pemanfaatan serta pewarisan pengetahuan.
Dari sisi pengolahan, tumbuhan obat yang dipaparkan dalam kajian tersebut antara lain dimanfaatkan melalui proses perebusan, perendaman, dan pemerasan. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun, kemudian rimpang, umbi, herba atau seluruh bagian tumbuhan, buah, batang, biji, tunas, akar, eksudat atau getah, dan air.
Sejumlah contoh pemanfaatan yang disampaikan antara lain daun jambu biji untuk keluhan diare, daun bulunangko atau iler untuk batuk, daun tambaga atau pegagan untuk gastritis, rimpang allikku atau lengkuas untuk gangguan kulit, serta daun nippon atau sintrong untuk luka terbuka.
Masruddin lalu menegaskan contoh tersebut merupakan dokumentasi praktik pengobatan tradisional yang dilaporkan dalam kajian, bukan bukti efektivitas klinis maupun petunjuk pengobatan.
Menurutnya, kajian terhadap leksikon tumbuhan obat memiliki kontribusi dalam memahami hubungan antara bahasa, budaya, dan lingkungan. Nama-nama tumbuhan yang hidup dalam suatu komunitas tidak hanya berfungsi sebagai penanda, tetapi juga menyimpan pengetahuan ekologis dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
“Leksikon tumbuhan obat bukan sekadar daftar nama tanaman. Di dalamnya tersimpan pengetahuan masyarakat tentang lingkungan, cara mengenali tumbuhan, cara memanfaatkannya, serta bagaimana pengetahuan tersebut diwariskan,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya dokumentasi pengetahuan lokal agar tidak terputus di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman. Salah satu rekomendasi yang disampaikan adalah pengembangan glosarium nama lokal dan dokumentasi pengetahuan pengobatan sebagai bagian dari upaya menjaga pengetahuan antargenerasi.
Keterlibatan Warek Masruddin dalam forum tersebut dinilai turut memperkuat peran UIN Palopo dalam pengembangan kajian yang berangkat dari kekayaan lokal. Pengetahuan masyarakat adat, bahasa daerah, budaya, dan lingkungan dapat menjadi objek kajian akademik sekaligus sumber pengetahuan yang memiliki nilai sosial.
Melalui kajian yang diikuti sejumlah dosen dan mahasiswa Akademi Kebidanan Tahirah Al-Baeti Bulukumba tersebut, pengetahuan lokal masyarakat Rongkong ditempatkan sebagai bagian dari dialog antara kearifan tradisional dan perkembangan ilmu pengetahuan modern, khususnya dalam memahami hubungan masyarakat dengan lingkungan dan praktik kesehatan tradisional.
.
.
.
.
Penulis: Mahfud Massaguni
Foto: Tim Humas
Penyunting: Reski Azis






