Dari UIN Palopo ke Adelaide, Nur Jihadilla Buktikan Mimpi Studi ke Luar Negeri Bisa Diraih

Dari UIN Palopo ke Adelaide, Nur Jihadilla Buktikan Mimpi Studi ke Luar Negeri Bisa Diraih

Palopo — Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo, Nur Jihadilla, membuktikan kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri dapat diraih melalui tekad, persiapan, dan keberanian untuk mencoba. Lulusan Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) angkatan tahun 2022 asal Morowali, Sulawesi Tengah, itu kini telah menyelesaikan pendidikan magisternya di Adelaide University, Australia, Kamis (1/10/2026) baru-baru ini.

Jihadilah menjalani studi magister selama dua tahun melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), setelah berhasil melewati tahan seleksi beasiswa pada 2023. Ketertarikannya mendalami neuroscience of education atau ilmu saraf dalam pendidikan, sebelumnya menjadi salah satu alasan memilih melanjutkan studi di Australia.

Menurut Jihadilla, pengalaman belajar di universitas luar negeri memberi kesempatan memperdalam pengetahuan melalui materi perkuliahan yang disajikan secara terstruktur dan mendetail. Lingkungan akademik berbahasa Inggris juga menjadi ruang baginya untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa sekaligus mempersiapkan diri kembali berkiprah sebagai pendidik bahasa Inggris.

Pengalaman tersebut tidak terlepas dari proses pengembangan diri yang telah dibangunnya sejak menempuh pendidikan sarjana di UIN Palopo. Ia menilai mahasiswa perlu memanfaatkan masa kuliah bukan hanya untuk mengikuti perkuliahan, tetapi juga untuk mengembangkan kompetensi melalui organisasi, kursus, dan kegiatan sukarela (volunteering) yang relevan dengan bidang keilmuan.

Meski demikian, Jihadilla mengingatkan aktivitas pengembangan diri di luar kelas harus tetap berjalan seimbang dengan tanggung jawab akademik.

“Perbanyak volunteering yang berkaitan dengan jurusan. Berorganisasi juga penting, tetapi tetap mementingkan kelas kuliah,” pesannya.

Selama menjalani studi di Australia, bahasa menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapinya. Jurnal akademik, diskusi, dan materi perkuliahan yang menggunakan bahasa Inggris menuntutnya untuk belajar lebih intensif agar dapat memahami pembahasan secara optimal.

Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian penting dari proses pembelajaran dan pertumbuhan dirinya. Ia juga memperoleh pengalaman berharga melalui interaksi dengan mahasiswa dari berbagai negara. Pertemuan lintas budaya itu memberinya kesempatan untuk memahami beragam perspektif pendidikan, memperluas wawasan, dan membangun cara pandang yang lebih terbuka terhadap perubahan.

Bagi Jihadilla, perjalanan akademik ke luar negeri selain untuk meraih gelar, juga untuk memperkaya pengetahuan, meningkatkan kapasitas diri, dan mempersiapkan kontribusi yang lebih luas setelah menyelesaikan pendidikan.

Ia pun berharap mahasiswa UIN Palopo tidak membatasi cita-cita hanya karena keterbatasan ekonomi atau keraguan terhadap kemampuan diri. Menurutnya, keberanian untuk mencoba harus berjalan beriringan dengan tekad dan persiapan yang matang.

“Jangan pernah merasa mimpi itu terlalu tinggi hanya karena keterbatasan ekonomi, atau merasa belum cukup cerdas untuk mencapai mimpi tersebut. Milikilah tekad pejuang tersebut, sehingga Allah swt membuka jalan yang kalian anggap tidak mungkin itu,” ungkapnya.

Ia juga berpesan agar mahasiswa tidak harus menunggu sampai merasa benar-benar hebat sebelum mengambil langkah besar. Kesempatan untuk belajar dan berkembang, menurutnya, dapat dimulai dari keberanian memberikan ruang bagi diri sendiri untuk mencoba.

“Kita tidak perlu menjadi seseorang yang hebat dahulu untuk mencoba sesuatu yang besar. Terkadang kita hanya perlu berani memberikan diri kita kesempatan untuk bertumbuh,” tutup Jihadilla.


Penulis: Jefri Nugraha
Foto: Istimewa
Penyunting: Reski Azis

Spread the love
Related Posts
Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *

qwe
Translate »