Palopo — Rektor UIN Palopo, Dr Abbas Langaji MAg, mengajak jemaah menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari dengan memulai upaya perbaikan dari diri sendiri dan keluarga.
Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi khatib salat Jumat di Masjid Agung Luwu Palopo (MALP), Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo, Jumat (4/9/2026).
Dalam khutbahnya, Rektor Abbas mengingatkan jemaah agar momentum bulan Maulid Nabi Muhammad saw tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Peringatan tersebut, menurutnya, harus menjadi momentum untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw sekaligus meneladani akhlak dan perilakunya.
Ia menjelaskan, kecintaan kepada Allah swt harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah saw, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 31.
“Menjadikan Nabi sebagai teladan pasti kita akan dicintai oleh Allah swt,” jelas Abbas dalam khutbahnya.
Ia menerangkan, ayat tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah swt tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan. Kecintaan itu harus tercermin dalam sikap, ibadah, akhlak, dan perilaku sehari-hari dengan mengikuti keteladanan Rasulullah saw.
Lagi menurutnya, meneladani Nabi Muhammad saw merupakan jalan bagi umat Islam untuk memperoleh kecintaan sekaligus ampunan Allah swt.

Belajar dari Kecintaan Rasulullah kepada Makkah
Dalam khutbah tersebut, Rektor Abbas juga mengangkat kisah kecintaan Rasulullah saw terhadap Makkah, tempat kelahiran beliau.
Rasulullah saw, kata Abbas, tetap mencintai Makkah meskipun penduduk kota tersebut pernah menolak dakwah dan mengusir beliau. Ia mengutip Surah Muhammad ayat 13 yang menggambarkan bagaimana Rasulullah saw harus meninggalkan negeri kelahirannya setelah menghadapi penolakan.
Ia kemudian mengutip hadis yang menggambarkan kecintaan Rasulullah saw kepada Makkah:
“Betapa baiknya engkau sebagai negeri dan betapa aku sangat mencintaimu, andai saja kaumku tidak mengusirku darimu maka aku tidak akan tinggal di tempat lain selainmu.” (HR al-Tirmidzi)
Kisah tersebut, menurut Abbas, memberikan pelajaran bahwa kecintaan terhadap tempat kelahiran dan tanah air merupakan salah satu nilai yang dapat diteladani dari Rasulullah saw.
Namun, kecintaan itu tidak cukup hanya disimpan dalam perasaan, melainkan perlu diwujudkan melalui perilaku dan perbuatan yang baik.
Perbaikan Dimulai dari Diri dan Keluarga
Abbas kemudian mengajak jemaah menjadikan keteladanan Rasulullah saw sebagai dorongan untuk melakukan perubahan nyata dalam kehidupan.
Perubahan tersebut, katanya, harus dimulai dari diri sendiri sebelum mengajak orang lain. Lingkup berikutnya adalah keluarga, kemudian lingkungan masyarakat.
“Perbaiki dirimu, perbaiki keluargamu. Memulai dari diri kita masing-masing, mulai dari keluarga kita,” pesan Abbas.
Ia pun menekankan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw seharusnya melahirkan perubahan dalam perilaku dan kehidupan umat Islam. Keteladanan Rasulullah saw dapat diwujudkan melalui akhlak yang baik, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen untuk terus memperbaiki diri dan keluarga.
Khutbah tersebut menjadi pengingat bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad saw bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah saw, tetapi juga momentum untuk menghadirkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Adrian
Fotografer: Ahmad Farhan M
Penyunting: Reski Azis



