Luwu Timur — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Kelompok 07-06 Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo menghadirkan inovasi pengolahan daun kelor menjadi minuman menyerupai matcha bernama MADELOR (Matcha Daun Kelor) di Desa Asuli, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur. Program ini dilaksanakan di Posyandu Cendana dan Posyandu Tepat Guna di desa setempat, sebagai bagian dari upaya edukasi kesehatan masyarakat dan pencegahan stunting.
Inovasi tersebut memanfaatkan daun kelor yang mudah dijumpai di lingkungan masyarakat untuk diolah menjadi produk minuman yang lebih variatif dan menarik. Melalui MADELOR, mahasiswa berupaya memperkenalkan potensi pangan lokal sekaligus mendorong masyarakat agar lebih kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia di desa.
Ravdiansyah, perwakilan mahasiswa KKN-T Kelompok 07-06, menjelaskan MADELOR merupakan hasil kerja bersama seluruh anggota kelompok. Program ini berorientasi pada pengenalan alternatif olahan pangan dan memberi wawasan mengenai potensi ekonomi dari bahan baku lokal.
“MADELOR ini adalah hasil kerja bersama seluruh anggota KKN-T 07-06 Desa Asuli. Kami ingin menunjukkan bahwa potensi lokal yang ada di sekitar masyarakat bisa dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai. Daun kelor tidak hanya bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga, tetapi juga berpotensi diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual,” jelas Ravdiansyah, Kamis (15/10/2026).
Ia berharap inovasi tersebut dapat menambah wawasan masyarakat, terutama dalam memanfaatkan tanaman yang tumbuh di sekitar tempat tinggal menjadi produk yang lebih beragam dan berpotensi dikembangkan sebagai usaha.
Dari aspek kesehatan, daun kelor dikenal mengandung sejumlah zat gizi, antara lain vitamin, mineral, protein, dan senyawa antioksidan. Pemanfaatannya sebagai bahan pangan dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkaya variasi menu keluarga dalam mendukung pemenuhan gizi seimbang.
Melalui kegiatan di posyandu, mahasiswa juga mengangkat pentingnya perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak. Pencegahan stunting membutuhkan upaya menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi seimbang, pemantauan pertumbuhan anak, hingga pemeriksaan kesehatan ibu dan anak secara rutin melalui pelayanan posyandu.
Selain aspek kesehatan, pengolahan daun kelor menjadi MADELOR masih menurut Ravdiansyah juga memperlihatkan peluang pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis potensi desa. Bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat dapat memiliki nilai tambah apabila diolah dengan memperhatikan kualitas, kebersihan, kemasan, penetapan harga, serta kebutuhan pasar.
Pelaksanaan program di Posyandu Cendana dan Posyandu Tepat Guna diklaim Ravdiansyah menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperkenalkan keterkaitan antara pemanfaatan pangan lokal, edukasi kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Inisiatif ini ia harapkan dapat menginspirasi warga untuk mengembangkan potensi yang tersedia di desa menjadi produk yang kreatif dan produktif.
Melalui program MADELOR, Ravdiansyah dan rekan-rekannya berharap kontribusi pengabdian di Desa Asuli tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga dapat mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi keluarga dan peluang usaha berbasis sumber daya lokal.
.
.
.
Penulis: Tim Humas
Foto: Posko KKNT 07-06
Penyunting: Reski Azis




