Bogor – Kepala Biro Akademik, Keuangan, dan Umum (AKU) Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo, Dr HM Arsyad Ambo Tuo MAg, mengikuti Lokakarya Penguatan Ekoteologi yang berlangsung pada 19–21 Mei 2026, di Hotel Grand Savero, Bogor, Jawa Barat.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, bekerja sama dengan Kelompok Kerja Penguatan Ekoteologi serta Forum Kepala Biro dan Kepala Bagian Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). Sebanyak 60 peserta yang terdiri atas Kepala Biro dan Kepala Bagian PTKN dari berbagai daerah di Indonesia turut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, saat membuka kegiatan menegaskan pentingnya penguatan ekoteologi sebagai fondasi dalam membangun hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Menurutnya, ekoteologi tidak hanya dipahami sebagai konsep akademik, tetapi juga sebagai kesadaran kolektif untuk menjaga keseimbangan kehidupan dan keberlanjutan lingkungan.
“Ekoteologi bukan hanya konsep akademik, tetapi merupakan upaya membangun kesadaran kolektif manusia dalam menjaga hubungan harmonis dengan sesama dan lingkungan,” ujar Menteri Agama.
Dalam arahannya, ia juga menjelaskan Kementerian Agama tengah mengembangkan konsep trilogi kerukunan jilid dua. Jika sebelumnya menitikberatkan pada kerukunan internal umat beragama, kerukunan antarumat beragama, dan hubungan umat beragama dengan pemerintah, kini konsep tersebut diperluas menjadi kerukunan antarmanusia, kerukunan manusia dengan alam, serta kerukunan manusia dengan Tuhan.

Menurutnya, penguatan ekoteologi menjadi bagian penting dalam misi kemanusiaan Kementerian Agama RI. Dari semangat tersebut lahir gagasan kurikulum berbasis cinta yang diharapkan mampu menanamkan nilai kepedulian sosial sekaligus kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan kepada generasi mendatang.
“Tidak mungkin manusia menjadi khalifah yang sukses dan hamba yang khusyuk jika alam semesta rusak. Karena itu, menjaga bumi merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual,” tegasnya.
Menag juga menyoroti peran strategis Kepala Biro dan Kepala Bagian PTKN dalam mengimplementasikan nilai-nilai ekoteologi di lingkungan perguruan tinggi keagamaan. Menurutnya, pimpinan biro memiliki posisi penting dalam tata kelola kelembagaan sekaligus sebagai penggerak budaya organisasi yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.
“Kepala biro harus memahami spirit ekoteologi agar nilai-nilai ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan kampus,” katanya.
Lebih lanjut, Menag mengingatkan bahwa seluruh agama pada dasarnya mengajarkan penghormatan terhadap alam dan seluruh makhluk hidup. Karena itu, ia mengajak seluruh peserta untuk membangun hubungan yang lebih ramah dengan lingkungan melalui berbagai langkah sederhana, seperti menjaga kebersihan sungai, merawat tumbuhan, dan menghindari tindakan yang merusak alam.
“Ekoteologi pada intinya adalah bagaimana kita bersahabat dengan alam. Jika manusia bersahabat dengan alam, maka alam juga akan bersahabat dengan manusia,” tandasnya.
Keikutsertaan Karo AKU UIN Palopo dalam lokakarya ini diharapkan semakin memperkuat implementasi nilai-nilai ekoteologi di lingkungan kampus. Hal ini sejalan dengan komitmen UIN Palopo dalam membangun budaya akademik yang berwawasan lingkungan, berkelanjutan, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Penulis: Adrian
Foto: Tim Humas
Penyunting: Reski Azis



